Ri’i Ta’a, Pulau Perawan di Pelukan Lautan Flores

Di antara banyaknya destinasi di Kabupaten Nagekeo, Ri’i Ta’a adalah permata tersembunyi yang mulai menarik perhatian.

Pasir putihnya halus, air lautnya jernih, dan suasananya teduh. Di sini, tak terdengar deru kendaraan atau bising kota. Yang ada hanyalah desiran ombak, semilir angin, dan keheningan yang memeluk. Pulau ini menawarkan pelarian sempurna bagi mereka yang mendamba ketenangan.

Dalam bahasa Mbay, “Ri’i Ta’a” berarti ilalang mentah atau segar. Nama ini berasal dari kisah nelayan Mbay yang pertama kali menemukan pulau ini. Saat itu, yang mereka lihat hanyalah gundukan pasir kecil dengan seonggok ilalang mentah yang diduga hanyut dari daratan dan terdampar di sana. Sejak saat itu, Ri’i Ta’a menjadi tempat persinggahan nelayan untuk beristirahat tidak hanya dari Mbay, tetapi juga dari Ende, Sikka, bahkan Sulawesi.

Keunikan Ri’i Ta’a bukan hanya pada pemandangannya, tetapi juga pada karakternya. Pulau ini nyaris tanpa nyamuk, lalat, atau bentuk kehidupan lainnya. Ketika laut pasang, luasnya hanya sekitar 30 meter persegi. Namun saat surut, ia melebar hingga dua hektare. Secara administratif, pulau ini berada di wilayah Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Untuk mencapainya, pengunjung bisa menumpang perahu motor dari Pelabuhan Marapokot dengan waktu tempuh sekitar satu jam, atau lewat Gheru Moreng yang hanya memakan waktu 30 menit. Meski belum dilengkapi fasilitas memadai, Ri’i Ta’a kian sering dikunjungi wisatawan lokal yang ingin berjemur atau sekadar bersantai.

Kepala Desa Tonggurambang, Toa Mualaf, menyebut bahwa dalam beberapa tahun terakhir, minat warga untuk datang ke Ri’i Ta’a makin meningkat. Pada tahun 2010, Pemkab Nagekeo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mulai memperkenalkan pulau ini ke khalayak luas. Sejak itulah, Ri’i Ta’a perlahan menapaki jejak sebagai destinasi wisata potensial.

Wilibrodus Lasa, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nagekeo, menyatakan bahwa pihaknya telah merancang pembangunan lopo (pendopo tradisional) di pulau ini, bersamaan dengan penetapan Desa Tonggurambang sebagai desa wisata sejak 2012. Kepala desa, Toa Mualaf, juga optimis fasilitas sederhana seperti lopo bisa dibangun tanpa khawatir dihantam gelombang pasang. “Masih bisa dibangun lopo meskipun pasang tertinggi,” ujarnya yakin.

Ri’i Ta’a adalah keindahan yang menanti disentuh bijak. Pulau kecil ini menyimpan potensi besar untuk menjadi ikon wisata bahari Nagekeo, selama tetap dijaga kelestariannya.

(Dimensiindonesia)

Ide Perjalanan