


Nagekeo, Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Pariwisata melaksanakan kegiatan pelatihan penyusunan paket wisata selama tiga hari sejak 23 Juli sampai dengan 25 Juli 2024 di Aula Hotel Sinar Kasih, Mbay.
Kegiatan yang diikuti oleh 25 peserta dari beberapa desa wisata ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo, Lukas Mere. Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber utama yakni Robertus Waka dari Sekda Nagekeo dalam sambutanya menyampaikan bahwa Pelatihan ini sebagai bukti kehadiran Pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia masyarakat di Desa Wisata serta melindungi tenaga kerja. Pemerintah Kabupaten Nagekeo menargetkan ke depan Nagekeo ini minimal 15 Orang Tenaga Kerja di setiap desa yang dilindungi oleh Undang-undang No. 6 tahun 2014 tentang Desa.
Sekda Lukas berharap agar pelatihan ini dapat membawa dampak positif bagi pengembangan geliat Pariwisata di Kabupaten Nagekeo terutama Desa Wisata yang mana setiap Desa sekurang-kurangnya menyediakan produk yang bisa dijual ke Wisatawan. “Harus bisa One Village One Produk, jangan sampai produk lokal kita yang bernilai ekonomis tinggi kita tinggalkan. Makanya 25 orang harus bisa punya kemampuan merencanakan paket wisata, menjual potensi Desa” tegasnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo Silvester Teda Sada menyatakan, lahirnya UU No 6 tahun 2014 tentang Desa, telah memberikan harapan baru bagi desa. Salah-satunya adalah bahwa Desa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya sebagai bentuk usaha produktif guna meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan warganya dalam perspektif Desa Wisata.
Desa Wisata adalah desa yang menjadikan segenap potensinya sebagai daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Dengan kunjungan tersebut, wisatawan dapat belajar secara langsung tentang kearifan lokal, sejarah, dan budaya. Kunjungan wisata akan berdampak positif pada kesejahteraan ekonomi masyarakat desa. “Untuk dapat menarik wisatawan berkunjung ke desa wisata, maka Desa Wisata harus memiliki strategi dan perencanaan yang sistematis. Salah satu strategi yang efektif adalah dengan membuat paket wisata yang inovatif, kreatif, dan menarik sesuai dengan tema desa wisata” ungkap Silvester.
Paket Wisata salah satu upaya/alat guna menarik minat wisatawan dan meningkatkan kunjungan serta memudahkan wisatawan untuk mengagendakan perjalanannya dengan membuat Paket Tour. Dewasa ini paket wisata (paket Tour) sudah menjadi kebutuhan wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata.
Paket Tour atau Paket wisata merupakan rincian penawaran (harga) perjalanan wisata yang berkaitan dengan tiga aspek yakni atraksi, aksesibilitas dan akomodasi.
Paket wisata menjadi solusi mudah untuk mengunjungi sebuah destinasi yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. “Paket wisata adalah bagian penting dalam industri pariwisata yang berhubungan langsung dengan kualitas serta kepuasan wisatawan. Operator wisata dituntut untuk menyediakan paket yang memuaskan wisatawan” katanya.
Adapun tujuan Pelatihan Penyusunan Paket Wisata adalah meningkatkan pengetahuan, motivasi dan kompetensi pengelola desa wisata, maupun para pelaku wisata yang bergerak dalam bidang usaha biro perjalanan wisata, agar dapat mengembangkan potensi desa serta potensi potensi lainnya untuk dikemas sebagai sebuah paket wisata yang berdaya jual. “Sasaran yang harus dicapai dalam pelatihan ini adalah Peserta mengetahui dan memahami dasar-dasar penyusunan paket wisata, Peserta mampu membuat paket wisata dengan berbagai inovasi dan tema, sehingga kemandirian dan keberlanjutan desa wisata dapat tercapai” paparnya.
Sementara itu, hasil yang ingin dicapai yaitu peserta mampu merencanakan, mempersiapkan penyusunan paket wisata, menjual paket wisata, memahami penyelenggaraan paket wisata dalam perspektif lingkungan dan sosial budaya, menguasai interpretasi dalam penyusunan paket wisata serta cakap mengoperasionalkan paket wisata.
Selama tiga hari menjani pelatihan para peserta mendapatkan asupan materi dari praktisi Pariwisata berupa teori dan praktik lapangan. Praktek lapangan dilaksanakan di hari terakhir di Kampung Wisata Nunungongo, Kecamatan Aesesa Selatan. Dalam pelatihan itu, setiap peserta dituntut untuk bisa mempresentasikan potensi wisata desa masing-masing dalam suatu paket wisata mulai dari narasi yang dilengkapi dengan foto keterangan. Peserta menyusun skedul dalam rangka menyambut tamu mulai dari penjemputan di bandara.
Sementara itu Kepala Bidang SDM Pariwisata pada Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo Primus Daga mengatakan bahwa selama ini Dinas Pariwisata telah melaksanakan beberapa agenda pelatihan terkait dengan tata kelola sektor Pariwisata. “Ada dampak positif bagi pelaku wisata terutama di Desa Wisata seperti di Kampung Kawa dan Ululoga kerja mereka di sana sudah menerapkan apa yang didapatkan dalam mengikuti pelatihan sebelumnya” jelas Primus.
Tahun 2024, Dinas Pariwisata jelas Primus mengadakan lima pelatihan secara berkesinambungan terkait dengan pengelolaan sumber daya Pariwisata terutama SDM pelaku wisata. “Tujuannya adalah kita mau mengembangkan sumber daya manusia khususnya orang Nagekeo yang berada di desa-desa wisata dan destinasi wisata” paparnya.
Robertus Waka salah satu pemateri menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Pariwisata yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. “Materi yang kami sampaikan itu bagaimana para pelaku wisata di Desa-desa, Pokdarwis, mengidentifikasi potensi wisata untuk menyusun itu menjadi sebuah paket mulai dari perencanaan, jadwal tour dalam satu kemasan yang siap dijual” jelas Robertus.
Dalam implementasinya, para pelaku wisata kata Robert, harus bisa melihat target dan sasaran wisatawan yang akan dituju. Output yang diharapkan adalah bagaimana peserta mampu melanjutkan apa yang mereka dapat selama mengikuti pelatihan ini dalam praktek kerja nyata di lapangan. “Mereka harus bisa membangun koneksi dan relasi, sehingga macam kami praktisi wisata travel agen yang biasa melayani paket wisata ini bisa mengetahui dan bisa kondisikan itu, agar kami bisa tau ada paket wisata ini yang sudah mereka siapkan” ungkapnya.
Menurut Robert pengembangan geliat Pariwisata di suatu daerah sejatinya butuh kolaborasi lintas sektor, baik itu Pemerintah Kabupaten sampai ke tingkat Desa, karena pariwisata bisa berjalan maksimal harus digerakkan secara multi dimensi. “pariwisata harus dikerjakan secara bersama-sama, kolaborasi pentahelix. Harapannya adalah mari kita kerja bersama-sama untuk membangun geliat Pariwisata ini, jangan sampai ada ego sektoral” pesan Robert.
Ke 25 peserta pelatihan tersebut tersebut merupakan pegiat wisata dan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di beberapa Desa Wisata di Kabupaten Nagekeo. Felisita Bela (25) salah satu peserta dari Desa Mulakoli, Kecamatan Boawae menyatakan, bahwa selama mengikuti pelatihan dia mendapatkan begitu banyak pengetahuan baru yang bermanfaat untuk diaplikasikan di lapangan nantinya.
Saat ini Pokdarwis Desa Mulakoli sedang menjalankan program penanaman bunga mawar. Dia berniat ingin mengembangkan potensi bunga mawar untuk bisa menjadi suatu produk yang bernilai jual bagi wisatawan. “Pengetahuan baru yang saya dapat itu adalah bagaimana kami diajarkan untuk menjual bunga mawar ini kepada para wisatawan” ungkap Bela.
Peserta Alfianus Nggoa dari Kelurahan Olakile menjelaskan bahwa dengan pengetahuan baru yang didapatkan selama mengikuti pelatihan, Dia berkomitmen akan membuat suara perencanaan secara baik agar potensi tersebut bisa dijual ke Wisatawan melalui paket wisata yang akan disusun nantinya. (****)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

