Di lereng Gunung Amagelu, tersembunyi sebuah kampung adat bernama Kawa—desa kecil yang menawarkan ketenangan, budaya, dan keindahan alam yang masih alami. Terletak di ketinggian ±600 mdpl, Kawa menyuguhkan panorama pegunungan dari berbagai sisi: Ebulobo, Inerie, Toto, hingga Wuse membingkai cakrawala desa.
Kawa dihuni sekitar 500 jiwa, dengan belasan rumah adat beratap alang-alang yang berdiri rapat menghadap tengah kampung. Arsitektur rumahnya masih memegang teguh nilai warisan leluhur, mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan roh nenek moyang. Di sinilah berbagai ritual adat tetap dilestarikan, mulai dari Manu Keka (syukuran panen) hingga Etu (tinju adat) yang menjadi simbol kehormatan dan solidaritas.
Meski akses menuju kampung menantang—melewati jalan berbatu dan tanjakan panjang—Kawa justru menawarkan apa yang jarang ditemukan di tempat lain: keheningan yang menyejukkan, alam yang murni, dan masyarakat yang hidup dalam keteraturan tradisi.
Di sinilah waktu seakan melambat, dan setiap detik menjadi pengingat bahwa keindahan sejati lahir dari kesederhanaan dan kedekatan dengan alam.
Inilah The Beauty of Kawa—tenang, bersahaja, dan tak terlupakan.

