Pantai Karst Kotajogo, terletak di Desa Anakoli, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu bentang alam pesisir yang menyimpan kekayaan geologis dan ekosistem unik. Dikenal karena formasi tebing karst yang spektakuler serta keberadaan padang rumput spinifex, pantai ini merepresentasikan perpaduan harmonis antara keindahan geologi, kekayaan ekologi pesisir, dan ketenangan wisata alam yang masih perawan. Artikel ini mengulas potensi wisata, aspek ekologi, serta tantangan konservasi yang dihadapi Pantai Kotajogo sebagai bagian dari identitas geokultural Nagekeo.
Latar Geografis dan Akses
Pantai Karst Kotajogo berjarak kurang lebih 45 menit dari Kota Mbay, pusat pemerintahan Kabupaten Nagekeo. Secara administratif berada di Desa Anakoli, Kecamatan Wolowae, wilayah ini dapat dicapai melalui jalur darat dengan kendaraan roda dua atau empat, meskipun akses jalan masih tergolong terbatas untuk transportasi massal.
Posisi geografis pantai ini berada di teluk kecil yang menghadap langsung ke Laut Flores. Sebagian besar wilayah pesisirnya dihiasi formasi karst batu kapur keras yang telah mengalami pelarutan oleh air selama ribuan tahun, membentuk lengkungan dan pilar alami yang tampak menjulang dramatis di pinggir laut.
Daya tarik utama Pantai Kotajogo adalah keberadaan tebing batu karst putih kecokelatan yang membentuk dinding alami di sepanjang garis pantai. Tebing ini memiliki ketinggian sekitar 6–8 meter, dengan formasi melengkung menyerupai gua setengah terbuka yang sangat fotogenik.
Dalam konteks geowisata, formasi karst seperti ini sangat jarang ditemukan di pesisir Flores, menjadikan Pantai Kotajogo sebagai situs penting dalam peta geodiversitas kawasan Nusa Tenggara Timur. Keberadaan struktur batuan ini memberikan peluang pengembangan ekowisata geologis yang potensial, terutama bagi wisatawan minat khusus.
Ekosistem Pesisir
Pantai ini bukan sekadar indah secara visual, tetapi juga kaya secara ekologis. Di bagian belakang garis pantai, tumbuh subur padang rumput spinifex (Spinifex littoreus), sejenis tumbuhan perintis khas pantai yang berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan pengikat pasir.
Di sisi timur pantai, terdapat kawasan hutan mangrove kecil yang menjadi habitat bagi berbagai jenis burung dan organisme pesisir. Pohon bidara (Ziziphus mauritiana) tumbuh rimbun, menyediakan ruang teduh alami bagi pengunjung.
Pantai ini juga menjadi tempat singgah burung walet, serta beberapa jenis burung laut, yang terlihat jelas saat air laut surut. Kehadiran satwa liar seperti rusa liar, ular karang berwarna cerah, hingga kerbau liar, menandai bahwa lanskap ini masih sangat alami dan minim gangguan manusia.
Potensi Wisata dan Keraifan Lokal
Pantai Karst Kotajogo masih tergolong sebagai destinasi wisata non-komersial. Kondisi ini menjadikan pantai sebagai tempat ideal untuk wisatawan yang mencari ketenangan, kealamian, serta pengalaman bersentuhan langsung dengan alam liar.
Masyarakat Desa Anakoli menunjukkan keterlibatan aktif dalam menjaga kelestarian kawasan pantai, antara lain melalui larangan membuang sampah, menjaga habitat mangrove, serta tidak memburu satwa liar. Kesadaran ekologis ini merupakan bentuk konkret kearifan lokal yang dapat dikembangkan dalam model ekowisata berbasis komunitas (community-based ecotourism).
Tantangan dan Rekomendasi Konservasi
Meski potensi wisatanya tinggi, Pantai Kotajogo menghadapi tantangan konservasi berupa belum adanya sistem pengelolaan terpadu, kurangnya infrastruktur wisata dasar, serta potensi kerusakan akibat eksploitasi karst atau abrasi jika tidak dikelola secara hati-hati.
(Dimensiindonesia)

