Kabupaten Nagekeo dalam rangka mengemban tugas pembangunan daerah, menitikberatkan Bidang Pariwisata sebagai salah satu prioritas utama pelaksanaan pembangunan. Hal ini dikarenakan Kabupaten Nagekeo memiliki sumber daya pariwisata yang cukup memadai untuk dijadikan suatu industri pariwisata.
Sudah sepantasnya sektor pariwisata mendapat perhatian dan penanganan yang serius serta berkesinambungan. Hal ini merupakan konsekuensi logis dan normal dari kenyataan bahwa secara alami dan budaya, Nagekeo mendapat karunia dari Tuhan Yang Maha Esa berupa memiliki potensi sumber daya alam maupun sosial masyarakat yang dapat dijadikan modal dalam pengembangan pariwisata, sehingga pengelolaan dengan wawasan industrial pariwisata tetap mengedepankan harmonisasi kemitraan dari pengusaha, masyarakat dan pemerintah dalam menggapai sebuah harapan yakni percepatan/ peningkatan taraf hidup masyarakat.
Sebagai bentuk nyata dalam upaya peningkatan dan pengembangan pariwisata daerah, Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo mengambil langkah kongkrit sebagaimana dituangkan dalam program kegiatan, salah satunya adalah program Pengembangan Pemasaran Pariwisata. Untuk melaksanakan program tersebut dilakukan berbagai kegiatan yang berpedoman pada prinsip – prinsip pemasaran yang mengacu pada issue keharmonisan budaya, kelestarian alam dan lingkungan hidup serta usaha pariwisata menuju destinasi yang mempesona.
Adapun salah satu kegiatan yang mendapat perhatian yakni pelaksanaan promosi dalam daerah dan secara berkesinambungan adalah menampilkan event – event yang disesuaikan dengan nuansa potensi lingkungan, sosial, seni budaya dan pariwisata Kabupaten Nagekeo.
Khusus Pelaksanaan event promosi pariwisata dalam daerah, Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Pariwisata pada tahun 2024 ini menggelar Festival Nagekeo One Be kali kedua. Kegiatan dimaksud dapat tercapai berkat dukungan dan kerjasama serta koordinasi yang baik dari semua unsur terkait demi tercapainya kesuksesan penyelenggaraan Festival Nagekeo One Be 2024 yang diselenggarakan sejak tanggal 24 sampai dengan 26 September dengan mengusung tema Kebangkitan Kampung. Pesan utamanya adalah melestarikan peradaban kampung adat yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Nagekeo.
Melalui Festival One Be Pemerintah Kabupaten Nagekeo dapat dengan mudah dan efektif mempromosikan potensi pariwisata kepada wisatawan baik mancanegara maupun wisatawan lokal terutama di budaya yang bersumber dari peradaban masa lalu di mana masih lestari hingga saat ini.
Festival ini dibuka secara resmi oleh Penjabat Bupati Nagekeo di Lapangan Berdikari, Danga pada 24 September 2024 sore. Seremonial pembukaan dilaksanakan secara meriah dengan menghadirkan parade dan antraksi budaya dari setiap kampung adat yang ada di 7 Kecamatan.
Penjabat Bupati dalam sambutanya menyampaikan bahwa Festival One Be sejatinya sangat kental dengan adat dan tradisi masyarakat Kabupaten Nagekeo dalam rangka melestarikan warisan budaya kampung adat secara turun temurun.

Kekuatan budaya menjadi tonjolan kita untuk pengembangan pariwisata. Kebangkitan Kampung merupakan tema yang harus didorong untuk bisa dipromosikan menjadi suatu nilai jual. “Tunjukkan kepada dunia bahwa adat dan budaya Nagekeo memiliki nilai yang sangat tinggi untuk bisa dinikmati dunia” ungkap Penjabat Bupati.
Festival Nagekeo One Be kedua ini diharapkan dapat memberikan warna baru dan menjadi bagian daripada Kharisma Even Nusantara (KEN), sehingga One Be bisa masuk dalam agenda Nasional, oleh sebab itu Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Pariwisata menetapkan One Be menjadi Festival rutin yang diadakan setiap tahun serta menjadi prioritas utama.
Dalam festival ini Dinas Pariwisata Nagekeo berkolaborasi dengan 7 komunitas adat di 7 kecamatan. Beberapa acara yang digelar seperti tradisi Zagho dari masyarakat Adat Lape. Tradisi Ngoka dan Cenda dari masyarakat adat Toto. Tradisi Ndoto Bheto Pile dan Ndua Uma Nuka Nua dari masyarakat adat Wajo.

Kemudian Dinas Pariwisata juga menghadirkan tradisi Tau Nuwa dari masyarakat adat Tutubhada dan tradisi Esu Kose dari komunitas budaya Pagomogoserta tradisi Bhei Kaju Waja dari masyarakat Jawapogo juga tradisi To’a Lako dari komunitas budaya Olakile.
Selain mempromosikan potensi pariwisata, Festival One Be tahun ini targetnya adalah masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) dan percepatan ekonomi sebab Festival diselenggarakan pada hakekatnya menciptakan keramaian sehingga ekonomi bergeliat.
Ada 13 syarat kurasi dalam Kharisma Event Nusantara diantaranya dengan nama yang sama Nagekeo konsisten mengelar festival selain itu ada kolaborasi dan swadaya dari masyarakat dalam menyumbang yang sudah dibuktikan pada festival tahun ini. “Event ini tidak menjadi ajang berurusan dengan politik namun hanya pariwisata. Untuk masuk di Kharisma Event Nusantara butuh partisipasi dari masyarakat dan kali ini swadaya dari 7 komunitas. Untuk kegiatan ini dukungan spontanitas masyarakat dalam bentuk uang dan barang sebagai bentuk kolaborasi ini juga sebagai bahan penilaian” jelas Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo.

Untuk membiayai festival ini anggarannya dari APBD sekitar Rp.127.000.000, kemudian dapat dukungan Provinsi NTT sebesar Rp. 90.000.000,. Selain itu ada komponen kontribusi dari Pariwisata NTT ke kelompok komunitas sebesar Rp. 5.000.000.
Rangkaian Kegiatan
Festival One Be kedua ini digelar selama tiga hari sejak tanggal 24 sampai dengan 26 September 2024. Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo menghadirkan beberapa kreasi inovatif, guna menarik minat peserta maupun pengunjung Festival. Jika Festival One Be tahun 2023 lalu kegiatan hanya dipusatkan di lapangan Berdikari, kali ini peserta diajak untuk menjelajahi Pulau Kinde dan Kampung Wisata Kawa.
Peserta nantinya akan membentuk kelompok dan komunitas kemudian mengambil bagian untuk tour ke Pulau Kinde dan Kampung Kawa. Peserta bertolak ke Pulau Kinde pada Selasa Rabu 25 September pagi menuju Kaburea kemudian menggunakan perahu nelayan menuju Pulau Kinde. Di pulau tak berpenghuni dengan panorama alam menakjubkan itu, peserta melakukan berbagai aktivitas salah satunya aksi Sapta Pesona.

Khusus di Kampung Kawa, selain menikmati panorama alam hamparan sabana dengan lekukan perbukitan memanjakan mata, peserta diajak untuk mencoba sensasi berkuda menjelajahi alam sekitar. Di kampung Kawa, selain parade berkuda, peserta Festival berkesempatan mendengarkan secara langsung cerita sejarah Kampung Kawa dari pemandu wisata lokal. Selain itu, ada Tim Camping Ground yang menginap semalam mengadakan Camping di Padang Moghujara tidak jauh dari Kampung Kawa.
Selain di dua destinasi tersebut, kegiatan Festival One Be dipusatkan di Lapangan Berdikari, Mbay sebagaimana kegiatan Festival sebelumnya. Aneka kegiatan dan perlombaan dipertontonkan peserta seperti lomba melukis dan mewarnai anak sekolah dari tingkat SD, SMP dan SMA.
Pada malam harinya, ada perlombaan Fashion Show (Audisi), Pentas Seni Budaya Panggung Hiburan (The Ragga’s Band), kunjungan Pameran dan Expo UMKM oleh Masyarakat dan Sekolah Panggung Hiburan untuk TK dan PAUD Zumba Dance by Community dan Grand Ethnic Carnival.
Perputaran Ekonomi saat Festival
Dinas Pariwisata mencatat, selama tiga hari pelaksanaan, event ini diklaim menghasilkan perputaran ekonomi hingga ratusan juta rupiah. Total peredaran uang selama Festival berlangsung mencapai Rp. 446.000.000.

Angka tersebut berdasarkan estimasi perhitungan mulai dari pembiayaan yang bersumber dari APBD dalam DPA Dinas Pariwisata, alokasi dana dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur, bantuan sponsor serta estimasi pengeluaran berdasarkan jumlah kunjungan orang yang hadir dalam Festival One Be.
Festival Nagekeo One Be memobilisasi kurang leboh 10 ribu orang mulai dari peserta sampai dengan pengunjung. Peserta yang dilibatkan berasal dari 7 Kecamatan dan 16 Kampung adat. Kegiatan mendapatkan dukungan dari 22 sponsor. “Kami membuat perhitungan kasar menurut kerja tim, kegiatan selama tiga hari jumlah pergerakan orang hari pertama 3.500 orang, hari kedua 3000 hari ketiga 4.000 orang total selama 10.500” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo Silvester Teda Sada. (***)

